SINDIKAT MATERI NDP
A. TujuanUmum :
1. Peserta bisa memahami ajaran Islam yang sesungguhnya.
2. Peserta dapat memahami garisbesar NDP.
B. TujuanKhusus :
1. Peserta dapat memahami keyakinan diatas dan dibawah keraguan, serta meyakini kebenaran berdasar argumen ilmiah.
2. Peserta dapat menjelaskan tentang hakikat Islam sebagai sebuah ajaran
3. Peserta dapat memahami hakikat penciptaan Manusia
4. Peserta memahami prinsip dinamika alam semesta (sunatullah) dan prinsip ikhtiar manusia berikut hubungan keduanya
5. Peserta dapat memahami tentang berbagai pandangan kemanusiaan, pola interaksi individu dan masyarakat dan tanggung jawab kekhalifahan.
6. Peserta
mampu menggagas tentang konsep kadilan dan ekonomi serta hubungan
kekuasaan dengan agaman, ketertindasan, keterpurukan, kemiskinan dan
keterbelakangan.
7. Peserta dapat menjelaskan posisi IlmuPengetahuan dan Teknologi dalam Perspektif Islam
C. Metode :
1. Ceramah
2. Diskusi
3. Tanya Jawab
E. Waktu : 35 Jam
F. Proses Penjelasan :
A) DASAR-DASAR KEPERCAYAAN
1. Awal
- Definisi
Sedikit tentang kebenaran :
Kebenaran adalah
kesesuaian antara ide dan realitas. Kesesuain adalah adanya relsi antara
dalam diri (ide) dan diluar diri diluar diri (realitas) secara Identik.
Ini sederhana, contoh dalam ide api panas dan diluar pemahaman api juga
panas, tapi panasnya api tidak membakar ide.
- Teori Kemunculan Agama
1. Teori Alienasi (Ludwig Fuerbach)
2. Teori Kebodohan (Spencer, Taylor dan Comte)
3. Teori ketakutan dan kelemahan (Russle dan Nietsczse)
4. Teori Marxisme (Karl Marx)
- Kontradiksi dalam Kitab
Logika kita menyatakan
bahwa sesuatu yang Kontradiksi mustahil kita ikuti kesemuanya. Misal,
seseorang yang menyuruh kita ke timur dan yang satu ke barat, maka
mustahil kita melaksanakan secara bersamaan. Ternyata dalam Kitab
Alquran terdapat Kontradiksi dalam 33:21 dinyatakan kemuliaan nabi
sedangkan di 80:01 dinyatakan tentang kesalahan Nabi.juga dalam 8:17
tentang determinisme dan 43:11 tentang Free Will.
Dalam 33:33 Dikatakan
Keluarga Nabi disucikan, sedangkan daolam Surah At-Tahrim, dua Istri
Nabi dikecam dengan keras. Begitupun dengan ayat-ayat yang lain serta
hadits-hadits.
- Tentang Sains
Asal mula alam ini, jika
kita merujuk pada pada teori Big Bang yaitu berasal dari bola energi
raksasa dimana waktu (t) pada saat itu sama dengan Nol (0) atau belum
ada waktu. Ledakan raksasa itu kemudian pecah dan menybebakan
terbentuknya galaksi. Galaksi inilah tempat dimana berkumpulnya tata
surya.disisi lain, beberapa bintang seperti matahari terus berotasi
dengan kecepatan tertentu sehingga beberapa bagiannya terlepas dan
mendingin dan menjadi planet-planet.
2. Inti
a. Sanggahan terhadap teori kemunculan agama
Fuerbach melanjutkan
analisisnya bahwa pertama tama tuhan dalam manusia primitif itu
berbentuk abstrak. Dalam agama Yahudi, tuhan mulai di dekatkan dengan
sifat kemanusiaan. Pada tuhan agama Kristen “bahkan” menampakkan dirinya
sebagai manusia material. Dari sini Fuerbach berpendapat bahwa manusia
semakin dekat dengan “kemanusiaanya” dengan semakin berkurangya
keterasingan tersebut. Artinya, semakin memanusianya tuhan (sepanjang
sejarah ketuhanan) adalah parameter semakain memanusianya manusia.
Padahal, dalam analisisnya Fuerbach melupakan Islam. Jika teori Fuerbach
benar, setelah membahas kepercayaan primitif lalau Yahudi dan Kristen
pasti Tuhan dalam Islam lebih memanusia dibanding lainnya. Fuerbach juga
belum membahas tentang ratusan agama yang ada di dunia.
Pengakuan Fuerbach
tentang adanya eksistensinya luhur yang inheren dalam diri manusia,
dalam agama disebut fitrah justru menjustifikasi kebenaran agama.
b. Teori Kebodohan
Dari pandagan Comte,
fase-fase sejarah yang dilalui manusia seiring dengan berkembangnya
pengetahuannya. Maka, sedikit demi sedikit penyebab fenomena alam
semakin jelas. Maka, jumlah tuhan semakin sedikit, atau mengalami
penyederhanaan. Kemudian dilanjutkan, suatu sat tuhan akan hilang dari
manusia jika manusia telah menguasai alam.
c. Teori kelemahan dan ketakutan
Dari perspektif ini,
agam adalah produk kelemahan, ketertindasan dan ketakutan. Argumen
mereka dengan menunjukan pemabawa ajaran dari kelas bawah dan ajaran
yang isinya ketakutan.
Tetapi bagaimana Nabi
Sulaiman dan Nabi Daud yang dalam barat dikenal dengan King Solomon dan
David. Mereka justru memiliki kekuatan yang sangat besar. Memang sekilas
jika kita melihat ajaran kristen sebagai representasi agama bagi kaum
materialis, terkesan mengajarkan kelemahan. Namun bukankah di beberapa
agama lain selain diajarkan dimensi kelembutan juga diajarkan dimensi
keperkasaan.
d. Teori Marxisme
Jika teori ini
benar,tentu tidak ada nabi atau penganjur agama yang berlatar kelas
bawah. Memang pada suatu sisi, agama melalui kaum agamawan telah
meligitimasi penindasan, tetapi agama tidak meligitimasi untuk
mengajarkan seperti itu. Artinya, kita tidak dapat melekatkan kesalahan
pengikut pada ajaran yang diikuti. Tetapi kita perlu membuktikan secara
ilmiah konsepsi yang dikandung oleh ajaran tersebut.
Marx berpendapat, kaum
agamawan tidak dapat melakukan revolusi. Sekiranya Mr. Marx masih hidup
pada tahun 1979, maka ia pasti mnerevisi teorinya karena justru kaum
ulama yang menjadi penggerakrevolusi menentang tirani.
e. Sanggahan terhadap sains modern
Teori Big Bang memiliki
banyak kelemahan. Pertama, dari mana datangnya bola energi raksasa.
Bukankah energi adalah massa yang percepat, sedang percepatan berkaitan
dengan waktu dan dimensi, mengpa justru dikatkan pada saat itu maktu (t)
= 0 ? kedua, apakah ia mempercepat diri atau dipercepat oleh yang lain
Teori ini berngakat dari konsep kebetulan. Terjadinya alam semesta
secara kebetulan adalah sbuah kemustahilan. Mengapa, karena dalam akal
kita menyatakan setiap sebab pasti mengakibatkan akibat.
f. Sanggahamn tentang Kontradiksi Kitab
Memang dalam berbagai
kitab ditemukan banyak kontradiksi. Untuk pembahasan ini kita hanya
membahas tentang Islam dengan Alquran dan Hadits.
Ayat-ayat Alquran tidak
ada yang kontradiksi, namun pemahaman yang kontradiksi. Tentyang surajh
33 :21 tidak bertentangan dengan 80:1. Alasannya adalah dalam 80:1
dikatakan “Dia (Muhammad) bermuka masam.” Surat yang diturunkan untuk
Muhammad biasanya dimulai dengan “Qul” ataua katakanlah. Atau bisa juga
Yaa Nabiy serta Ya Rasul. Sedangkan kata Abasa ditunjuk pada orang
ketiga tunggal. Artinya ayat tersebuat tidak mengacu pada Muhammad. Jika
betul Muhammad bermuka masam pada orang miskin, pada hal itu
bertentangan dengan sikapnya dan tentu hal ini menggugurkan kenabiannya.
3. Penutup
Sedikit tentang keberadaan tuhan dan sifatnya
1. Argumen keteraturan
2. Argumen Matematis
3. Argumen ada
B) ESENSI AJARAN ISLAM
1. Awal
- Definisi
Esensi dapat diartikan
sebagai batasan yang memnedakan sesuatu dengan yang lain. Esensi juga
dapat dipahami sebagai suatu inti sari sesuatu. Ajaran adalah kumpulan
pengetahuan yang serupa kemudian tersusun secara tersistematis. Ajaran
juga adalah sesuatu dari objek penyampaian. Islam berasal dari kata
salam atau keselamatan, juga bermakna kedamaian, tunduk dan taat. Islam
adalah Dien yang didalamnya terdapat sistem berpikir (koognitif), tata
nilai (afektif) dan syariat (Psikomotorik).
2. Inti
- Pembedahan keyakinan
Keyakinan terbagi dua.
Pertama keyakinnan dibawah keraguan, yaitu keyakinan tanpa melewati
proses keraguan dan tentunya pemikiran. Kedua adalah keyakinan diatas
keraguan yaitu keyakinan yang melewati proses keraguan.
Adapun keyakinan itu
sendiri bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas orang yang yakin
tersebut. Pertama adalah Ilmal Yaqin, yaitu yakin berdasarkan
keilmuan. Keyakinan seperti ini adalah keyakinan tahap awal. Kedua
dalah Haqqul Yaqin yaitu yakin dengan sebenar-benarntya. Analoginya
adalah orangn yang meykini adanya apai sedang ia sendiri berada dalam
api. Begitu dekatnya dengan api, sehingga sulit dibedakan yang mana api
dan yang bukan. Orang yang mempunyai pada tingkatan ini adalah ini adlah
orang yang segala ucapan dan tindakannya adalah ucapan dan tindakan
Allah SWT.
- Perbandingan Teologi
Tuhan itu tunggal, tuhan
iu tidak tersusun dan tidak terbatas. Tidak bersebab tapi merupakan
sebab dari semua sebab (prima causa). Tidak berakhir, tapi akhir dari
segala yang akhir (causa finalis), sederhana. Maha meliputi, maha kaya,
dst.
Disisini kita akan mengadakan perbandingan konsep ketuhanan yang paling rasional dari sampel monotheis versi kristen (trinitas).
Hindu (trimurti), dan
assyaryah. Ketiga konsep teologi tersebut mengakui bahwa tuhan itu Esa,
namun kemudian penafsiran tentang ketunggalan tersebut akan kita
persoalkan sebagai berikut:
Dari ke tiga konsep
telogi terdapat kesamaan yaitu sama-sama mengaku monotheis. Tapi pada
saat yang sama justru memahami ketersusunan dan keterbatasan Tuhan.
Logikanya adalah jika tuhan tersusun, berarti ada yang menyusunnya. Jika
terbatas, berarti ada yang batasi. Ini berarti Tuhan akibat dari
ciptaan. Lebih lanjut bererti makhluk dan dengan sendirinya menyangkali ketuhanan tuhan itu sendiri.
- Prinsip Ketuhanan
Secara logis kita sudah
membuktikan bahwa Allah adalah penyebab yang tidak tersebabkan dan
segala sesuatu berasal dari dia. Selain itu bahwa rantai kausalitas akan
berkhir pada satu titik, yakni tujuan dari segala sesuatu. Dalam logika
hal ini di kenal dengan istilah causa finalis.
Penyebab yang tidak
tersebabkan dab tujuan akhir dalam Islam dikenal dengan Istilah
“innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Dari titik ini kita bisa menarik
konklusi bahwa alam materi ini akan pasti berakhir.
- Macam-macam Tauhid
a) Tauhid Zati
b) Tauhid Rububiyah
c) Tauhid Ibadi
3. Penutup
Sesungguhnya
Implementasi dari syahadat adalah menjadikan kita lebih dekat kepada
Allah SWT. Ketundukan, kepasrahan serta penyerahan diri secara totalitas
adalah kuncinya. Tapi ini berangkat pada pemikiran dan renungan yang
memunculkan keyakinan hakiki.
a. Prinsip Ketuhanan
b. Prinsip Kenabian
c. Prinsip Kebangkitan
Ketiga poin diatas
adalah dikenal dengan ushluhuddin, dimana semua umat Islam sepakat
dengan prinsip ketuhanan, kenabian dan kebangkitan.
C) MANUSIA DAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN
1. Awal
Satu hal yang mesti dilakukan sebelum
kita membicarakan hal-hal lain dari manusia adalah sebuah pertanyaan
filosofis yang senantiasa hadir pada setiap manusia itu sendiri, yakni
apa sesungguhnya manusia itu? Dari segi aspek apakah manusia itu mulia
atau terhina? Dan apa tolak ukurnya?
2. Inti
Tentu manusia bukanlah makhluk unik dan
sulit untuk dipahami bila yang ingin dibicarakan berkenaan dengan aspek
basyariah (fisiologis) nya. Karena cukup dengan menpelajari anatomi
tubuhnya kita dapat mengetahui bentuk atau struktur terdalamnya. Tetapi
manusia selain merupakan makhluk basyariah (dimensi fisiologis) dan
Annaas (dimensi sosiologis) ia juga memiliki aspek insan (dimensi
psikologis) sebuah dimensi lain dari diri manusia yang paling sublim
serta memiliki kecenderungan yang paling kompleks. Dimensi yang disebut
terakhir ini bersifat spritual dan intelektual dan tidak bersifat
material sebagaimana merupakan kecenderungan aspek basyarnya.
Dari aspek inilah nilai dan derajat manusia ditentukan dengan kata lain manusia dinilai dan dipandang mulia atau hina tidak berdasarkan aspek basyar (fisiologis). Sebagai contoh cacat fisik tidaklah dapat dijadikan tolak ukur apakah manusia itu hina dan tidak mulia tetapi dari aspek insanlah seperti pengetahuan, moral dan mentallah manusia dinilai dan dipahami sebagai makhluk mulia atau hina.
Dari aspek inilah nilai dan derajat manusia ditentukan dengan kata lain manusia dinilai dan dipandang mulia atau hina tidak berdasarkan aspek basyar (fisiologis). Sebagai contoh cacat fisik tidaklah dapat dijadikan tolak ukur apakah manusia itu hina dan tidak mulia tetapi dari aspek insanlah seperti pengetahuan, moral dan mentallah manusia dinilai dan dipahami sebagai makhluk mulia atau hina.
Dalam beberapa kebudayaan dan agama
manusia dipandang sebagai makhluk mulia dengan tolak ukurnya bahwa
manusia merupakan pusat tata surya. Pandangan ini didasarkan pada
pandangan Plotimius bahwa bumi merupakan pusat seluruh tata surya.
Seluruh benda-benda langit ‘berhikmat’ bergerak mengitari bumi. Mengapa
demikian? Karena di situ makhluk mulia bernama manusia bercokol. Jadi
pandangan ini menjadikan kitaran benda-benda langit mengelilingi bumi
sebagai tolak ukur kemulian manusia. Namun seiring dengan kemajuan sains
pandangan ini kemudian ditinggalkan dengan tidak menyisakan nilai mulia
pada manusia. Para ahli astronomi justru membuktikan hal sebaliknya
bahwa bumi bukanlah pusat tata surya tetapi matahari.
Manusia tidak lagi dipandang sebagai
makhluk mulia bahkan dianggap tak ada bedanya dengan binatang adapun
geraknya tak ada bedanya dengan mesin yang bergerak secara mekanistis.
Bahkan lebih dari itu dianggap tak ada bedanya dengan materi, ada pun
jiwa bagaikan energi yang di keluarkan oleh batu bara. Karena itu wajar
bila manusia dan nilai-nilai kemanusiaan tak lagi dihargai. Maka
datanglah kaum humanisme berupaya mengangkat harkat manusia, dengan
memandang bahwa kekuatan, kekuasaan, kekayaan, pengetahuan ilmiah dan
kebebasan merupakan hal esensial yang membedakan manusia dengan
selainnya.
Tetapi bila itu tolak ukurnya, lantas
haruskah orang seperti Fira’un atau Jengis Khan yang dapat melakukan apa
saja terhadap bangsa-bangsa yang dijajahnya dipandang mulia? Jika
berilmu pengetahuan merupakan tolak ukurnya. Lantas, apakah dengan
demikian orang-orang seperti Einstein yang paling berilmu tinggi abad 20
atau para sarjana-sarjana itu lebih mulia dari seorang Paulus Yohanes
paus II, ibu Tereisa atau Mahadma Ghandi bagi ummatnya masing-masing?
Sungguh semua itu termasuk ilmu pengetahuan – sepanjang peradaban
kemanusiaan manusia – tidak mampu mengubah dan memperbaiki watak jahat
manusia untuk kemudian mengangkatnya menjadi mulia. Lantas, apa
sesunguhnya tolak ukur kemanusian itu? Sungguh dari seluruh
bentuk-bentuk konsepsi tentang manusia yang ada di muka bumi tak satu
pun yang dapat menandingi paradigma (tolak ukur)nya serta tidak ada yang
lebih representatif dalam memupuk psikologisnya kearah yang lebih mulia
dari apa yang ditawarkan Islam. Dalam konsepsi Islam Tuhan (Allah)
dipandang sebagai sumber segala kesempurnaan dan kemulian. Tempat
bergantung (tolak ukur) segala sesuatu. Karena itu pula sebagaimana
diketahui dalam konsepsi Islam, manusia ideal (insan kamil) dipandang
merupakan manifestasi Tuhan termulia di muka bumi dan karenanya
ditugaskan sebagai wakil Tuhan yang dikenal sebagai khalifah/nabi atau
rosul (QS.2:30). Karena itu, ciri-ciri kemulian Tuhan tergambar/
termanifestasikan pada dirinya (QS.33:21) sebagai contoh real yang
terbaik (uswatun hasanah) dari “gambaran/cerminan” Tuhan di muka bumi
(QS.68:4). Dengan kata lain bahwa karena Nabi merupakan representasi
(contoh) Tuhan di muka bumi bagi manusia dengan demikian
nabi/rosul/khalifah sekaligus merupakan representasi yakni insan kamil
(manusia sempurna) dari seluruh kualitas kemanusiaan manusia. Tetapi
walaupun manusia dipandang sedemikian rupa dengan nabi sebagai
contohnya, pada saat yang sama, dalam konsepsi Islam manusia dapat saja
jatuh wujud kemulian menjadi sama bahkan lebih rendah dari binatang.
Dengan demikian keidentikan kepadanya
(khalifah/nabi/rasul) merupakan tolak ukur kemulian kemanusiaan manusia
dan sebaliknya berkontradiksi dengannya merupakan ukuran kebejatan dan
dianggap sebagai syaitan (QS.6:112).
3. Penutup
- Kesimpulan
Sesungguhnya manusia dalah makhluk yang
paling sempurna yang telah diciptakan Allah SWT. Karena manusia di
bekali oleh akal dan nafsu yang membedakan dengan makhluk yang lain. Ini
merupakan bekal yang diberikan oleh ALLAH dalam rangka manusia sebagai
pengelola alam semesta beserta isinya.
D) KEMERDEKAAN INDIVIDU (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN UNIVERSAL (TAKDIR)
1. Awal
- Definisi
Kemerdekaan berarti keleluasaan,
kebebasan untuk memilih dan melakukan sesuatu. Individu bermakna suatu
entitas manusia yang tak terbagi atau secara personal. Kemerdekaan
Individu bermakna keleluasaan atau kebebasan sesorang. Kemerdekaan
Individu juga berarti ikhtiar manusia.
Keharusan berarti keniscayaan,
keharusan, tidak boleh tidak atau demikian adanya. Universal bermakna
menyeluruh. Keharusan Universal bermakna keniscayaan mutlak yang berlaku
menyeluruh. Atau juga diartikan sebagai Takdir.
Kemerdekaan individu dan keharusan universal adalah pembahasan yang mencari titik temu antara ikhtiar dan takdir manusia.
Oleh karena itu, subtansi materi ini
adalah keadilan tuhan. Materi ini membahas tentang beberapa konsep
argumentasi tentang keadilan Tuhan.
2. Inti
- Determinisme dan Freewill
Determinisme brasal dari kata determinan
yang berarti ditentukan. Determinisme kurang lebih berarti satu pahaman
yang menyatakan bahwa segala sesuatu telah ditentukan. Segalanya
dilakoni dengan keterpaksaan, bukan kemerdekaan atau kesadaran. Factor
yang menetukan tergantung dari sudut pandangnya.
Determinisme yang memandang bahwa alam
yang menjadi factor penentu diusung oleh Karl Marx dengan konsep
Materialisme Dialektika Historis. Bahwa kesejarahan manusia diatur oleh
hukum besi sejarah dimana terjadi dialektika materi. Terjadi
pertentangan (dilektika) yang mengakibatkan loncatan kualitas menuju
tahap masyarakat berikutnya.
Freewill berarti kebebasan berkehendak.
Pahaman ini berangkat dari asumsi bahwa manusia memiliki kehendak dan
kekuatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus
diintervensi oleh pihak lain. Jika dihadapkan dengan alam, bahwasanya
manusia dapat mentapkan sejarahnya sendiri tanp harus terikat oleh hokum
besi sejarah.
- Jabariah dan Mu’tazilah
Bagi kita umat Islam, alam adalah
ciptaan Tuhan. Sehingga Tuhanlah yang menjadi factor penentu alam dan
manusia. Cuma persoalannya adalah sejauh mana interfensi Tuhan.
Jika dalam pandangan Islam, Tuhan
sebagai factor yang menentukan, maka yang selaras dengan Determinisme
adalah Jabariah dan Asyariyah.
Jabariah memahami bahwa manusia tinggal
menjalankan scenario Tuhan. Manusia tidak memiliki sedikitpun kebebasan
apalagi dalam hal Jodoh, rezki dan ajal. Setiap tindakan manusia sudah
ditetapkan, termasuk hal yang baik dan hal yang buruk.
Dalam sejarah perkembangan Ilmu Kalam,
pemikiran kaum Jabariah kemudian ditentang oleh kaum Mu’tazilah. Mereka
menganggap bahwa tugas tuhan tidak sampai pada sekedar mencipta belaka.
Selanjutnya tergantung pada ikhtiar manusia. Keadilan Tuhan dalam
perspektif Mu’tazilah adalah Tuhan hanya dapat memasukkan orang saleh ke
surge dan orang kafir ke neraka.
- Kelemahan Mu’tazilah dan Jabariyah
Kaum Mu’tazilah mengkritik kaum
Jabariyah dengan mengatakan bahwa Tuhan perspektif Jabariah adalah
zalim, semena-mena. Untuk memberikan pendapatnya, Mu’tazilah mengutip
beberapa ayat yang mengindikasikan kebebasan manusia. Ayat yang sering
digunakan adalah “tidak berubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu
sendiri yang merubahnya”. Mu’tazilah mengatakan bahwa ayat ini muhkamat
(jelas) adanya. Dn ayat-ayat yang Nampak menyerang argument Mu’tazilah
dianggap Mutasabih.
Sebaliknya kaum Jabariah mengkritik
Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa Tuhan perspektif Mu’tazilah adalah
lemah, dan tidak maha kuasa. Untuk membenarkan pendapatnya, Jabariah
mengutip beberapa ayat mengindasikan kekuasaan Tuhan, salah satunya
adalah “bukan kamu yang membunuh, Aku yang membunuh” (8:17). Jabariah
mengatakan bahwa Muhkamat adanya, dan justru yang digunakan kaum
Mu’tazilah ini Mutasabih (samar-samar).
Untuk mengkaji landasan berpikir kedua
mazhab ini maka kita perlu memahami konsep ketuhanannya. Dari mana
sebelunya dibahas tentang Tauhid Zati, Sifati dan a’fali. Dalam hal
tauhid Zati kedua Mazhab sepakat Mu’tazilah kemudian terlalu cenderung
pada Tauhid Sifati, dimana pahaman tentang kemahaadilan Tuhan kemudian
justru mengurangi bahkan mungkin menghilangkan pahaman tentang kekuasaan
Tuhan untuk berkehndak.
Sebaliknya Jabariah terlalu cenderung
pada tauhid A’fali (tindakan), dimana kekuasaan tuhan untuk bertindak
malah mengurangi bahkan menghilangkan keadilan Tuhan.
Akibat dari pahaman Jabariyah adalah
stagnasi Individu dan Masyarakat karena sikap pesimisme dalam
berikhtiar. Sementara akibat pemahaman Mu’tazilah adalah “terlepasnya”
Tuhan dari kehidupan Manusia. Kedua pahaman ini masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk menengahi perdebatan ini,
kita harus mencari jalan tengah, dimana pemahaman kita tidak menjadikan
tuhan tidak adil atau maha kuasa.
- Prinsip dinamika Alam semesta
Persoalan mendasar dalam penciptaan
adalah apakah semuanya terjadi secara kebetulan belaka tanpa ada yang
mengatur atau ada yang mengatur secara mutlak, atau ada yang mengatur
sesuai dengan hokum-hukumnya.
Jika mengikuti pendapat pertama bahwa
tanpa ada yang mengatur berarti sama saja kita mengatakan bahwa tidak
ada pencipta, dan ini tentunya mustahil.
Jika mengikuti pendapat kedua bahwa ada
yang mengatur mutlak dimana diptaan dalam hal ini manusia tidak memiliki
kebebasan untuk berikhtiar dan memilih, berarti sama saja kita katakana
bahwa Tuhan tidak adil.
Dengan demikian otomatis dalam
penciptaan kita mempercayai vahwa alam semesta ini diatur berdasarkan
hukun-hukum yang ditetapkan sang pencipta. Manusia sebagai bagian alam
semesta juga pasti akan dikenai hokum-hukum dari sejak penciptaan,
tindakan sampai akhir perjalanan manusia.
- Takwni dan Tasrii
Untuk mempermudah pembahasan, kita bagi
dua wilayah hukum Tuhan. Pertama Takwini, dalam hal ini penciptaan. Dan
Tasrii, dalam hal ini aksiden-aksiden di alam material.
Perlu dibedakan antara hukum penciptaan
dengan hukum syar’i. dalam hal hukum penciptaan, tidak ada hak manusia.
Sebagai contoh, binatang diberi Insting dan manusia diberi insting dan
akal. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dimana
manusia dibekali akal untuk mengelola alam semesta, amaka tuhan kemudian
menurunkan aturan abagi manusia dalam hal ini syariat. Jadi syariat
berlaku pada manusia, itupun yang memenuhi syarat agar terjaga
keseimbangan sesuai denga peran dan fungsi pencip taan manusia.
- Baik dan buruk
3. Penutup
Bahwasanya keadilan
Ilahi bermakna segala sesuatu diciptakan tidak sia-sia melainkan
memiliki peran dan fungsi masing-masing.. untuk itu, tuhan menciptakan
fasilitas pada makhluk sesuci tujuan penciptaannya. Fasilitas yang
diberi pada makhluk keudian akan dimintai pertanggung jawaban sebagai
ketetapan sesuai dengan fasilitas sebagai ukuran untuk ketetapan.
Sederhananya adalah
“Tuhan memaksa manusia untuk memilih, pilihan manusia tidak lepas dari
kehendaknya, dan kehendaknya memberikan pilihan pada manusia”.
E) INDIVIDU DAN MASYARAKAT
1. Awal
- Definisi
Individu berasal dari kata In yang
berarti tidak dan devide yang berarti terbagi. Individu sendiri berarti
satu subjek otonom, dalam hal ini Manusia. Atau biasa dipahami sebagai
seorang person.
Masyarakat berarti kumpulan Individu yang berinteraksi atas pola tertentu dan kepentingan tertentu.
- Proses terbentuknya masyarakat
Pada mulanya adalah seorang laki-laki
dan perempuan yang membentuk keluarga. Seterusnya perkembangan keluarga
terbentuk suku. Dalam satu suku terdapat beberapa keluarga. Kemudian
suku ini berkembang menjadi bangsa. Pada satu bangsa terdapat beberapa
suku. Akhirnya masyarakat dunia yang ulti etnis dan ras seperti dewasa
ini.
Manusia harus berusaha untuk
mempertahankan hidupnya, sementara kemampuan terbatas. Oleh karena itu,
pembagian peran, tugas dan tanggung jawab menjadi konsekuensinya.
Semangat kolektifitas untuk saling menutupi keluarga masing-masing
kemudian mengarahkan pada penggunaan tenaga yang lain.
- Konsep kemasyarakatan
Dalam kaitan terbentuknya masyarakat,
ada beberapa asumsi terhadap sikap masyarakat seperti dijabarkan oleh
murthada muthahari dalam manusia dan alam semesta. Adapun asumsi
tersebut sebagai berikut :
a. Komposisi masyarakat tidak riil.
b. Masyarakat adalah senyawa sintetis dan sejenis senyawa riil.
c. Masyarakat adalah senyawa riil yang merupakan perpaduan pikiran, emosi, hasrat, kehendak dan juga budaya.
d. Masyarakat adalah senyawa riil yang sempurna
2. Inti
- Teori Negara
Bauik sosiologi maupun ilmu politik
memahami bahwa Negara adalah asosiasi dan system pengadilan social.
Sebelum membahas lebih jauh tentang Negara, berikut ini dipaparkan
tentang konsepsi Negara, yang tertuang dalam diskusi politik dan
pembangunan karya Ishomuddin.
a. Menurut
Roger H. Soltau An Introductionto Politics bahwa Negara adalah alat
(agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan
persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.
b. Harold
J. Laski dalam the state in theory and practice menyatakan bahwa Negara
merupakan suatu masyarakat yang di integrasikan karena mempunyai
wewenang yang bersifat memaksa dn secara sah lebih agung dari pada
individu tau kelompok yang merupakan bagian masyrakat itu.
c. Max
Webber dalam From Max Webber : Essay in Sociology, memahami bahwa
Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan monopoli dalam penggunaan
kekerasan fisik secara sah dalam satu wilayayh.
d. Dari
buku The Modern State karya Robert M. Mc Iver menyatakan bahwa Negara
adalah asosiasi yang menyelenggarakan ketertiban didalam suatu
masyarakat dalam satu wilayang dengan berdasarkan system hokum yang
diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut diberi
kekuasaan memaksa.
- Prinsip dasar Negara
Adapun prinsip dasar Negara oleh Alfred Stephen antara lain :
a. Negara pada dasarnya mempunyai tujuan utama, yaitu moral.
b. Tujuan moral itu merupakan Common Good yang diarahkan kepada politics community.
c. Common good merupakan prinsip yang berlaku dalam mengontrol setiap kepentingan yang ada
d. Negara memiliki sifat kuat dan interfensionos. Negara memiliki peran yang otonom dalam proses-proses politik.
e. Walaupun
Negara merupakan kekuatan yang paling utama dalam kekuatan politik,
tetapi komponen dari Negara seperti Individu, keluarga,
asosiasi-asosiasi pribadi, mempunyai funsi sendiri dalam organisasi.
- Model negara
Ada beberapa model Negara antara lain :
a. Minimal
State, yaitu fungsi dan intervensi Negara terhadap individu dan
kelompok dalam masyarakat dibatasi sehingga terpelihara kebebasan yang
maksimal.
b. Capital State, yaitu Negara melayani dan memelihara modal/pemodal/kapitalis untuk berkembang
c. Socialis State, yaitu merupaka wadah kelas pekerja
d. Organic State/Corporate State, yaitu Negara mempunyai wadah semua golongan dalam masyarakat
e. Ideal
State, yaitu Negara merupakan penumbuhan semua nilai-nilai luhur.
Negara dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana, dalam pendapat Plato
dikenal dengan gagasan filsuf raja.
f. Integralistic State, yaitu Negara dan masyarakat yang menyatu. Pemimpin dan rakyat menyatu
g. Beauereaucratic State, yaitu Negara adalah perwujudan sebuah birokrasi. Disebut juga Negara pegawai
h. Beauereaucratic Capitalists State, yaitu Negara adalah perwujudan sebuah birokrasi yang melayani kepentingan kaum pemodal.
- Pandangan barat terhadap Individu dan masyarakat
Fritjof Chapra seorang posmodernis,
membagi tahapan masyarakat berdasar paradigm yang berkembang. Paradigm
sendiri adalah istilah yang diperkenalkan oleh Thomas Kuhn yang maknanya
mengacu pada cara pandang terhadap sesuatu. Pemahaman terhadap sesuatu
sangat tergantung dari cara pandang tersebut. Selanjutnya, Chapra
merumuskan paradigm monistic sebagai awal dan paradifma posmodernisme
sebagai paradigma mutakhir.
- Pandangan Islam tentang Individu, prinsip interaksi social dan masyarakat madani
a. Individu
Islam memandang manusia sebagai mahluk
mono-dualistis, satu tapi dua. Manusia memiliki unsure material-jasadiah
dan unsur non material-rohaniah.
Seorang ulama menterjemahkan ayat
penciptaan manusia dari air sebagai H2O. sedang ayat yang membahas
manusia dari lempung dan tanah terbakar masing –masing sebagai N
(nitrogen) dan C (carbon).CHON inilah yang membentuk asam amino, asam
amino pembentuk protein, protein pembentuk sel.
Pertemuan sel sperma dan sel ovum
menyebabkan terjadinnya zigot, zigot berkembang menjadi bakal janin
dalam benuki segumpal darah dan seterusnya merkembang menjadi manusia.
Dalam al-Quran kemudian di katakana
bahwa saat sajin berusia tiga bulan, Allah SWT meniupkan ruh-nya. Jelas
bahwa manusia adalah mahluk mono dualistik. Hal ini kemudian menyebabkan
manusia berada di antara lempung roh illahi, di mana jika manusia mampu
menaklukan pengaruh lempungnya maka ia akan lebih mulia dari pada
malaikat. Sebaliknya jika manusia di kalahkan pengaruh lempunganya maka
ia lebih hina daripada binatang.
Atas dasar itu maka manusia memiliki
dimensi ganda, pertma sebagai hamaba dan yang kedua sebagai wakil tuhan
atau khalifah fil ardhi. Manusia diberi kekuatan dan tanggung jawab
untuk mengelola bumi sekaligus wujud kehambaannya.
b. Prinsip Interaksi Sosial
Islam memandang bahwa masyarakat seperti
individu. Masyarakat memiliki berbagai arogan, yang jika salah satu
sakit maka semuanya akan sakit. Meski arogan yang satu tidak mesti
menjadi arogan yang lain. Seperti individu, Al-Qur’an mengisyaratkan
bahwa masyarakat pun memiliki ajal. Adapun umur (berdasarkan gerak
matahari bukan spiritual) individu tergantung dari “kesehatan” dari
individu-individu anggotanya. Islam membedakan amal individual dan amal
jariyah. Otomatis dosa pun terdiri dari dosa individual dan dosa
kolektif.
Dalam interaksi social, islam
mengajarkan tentang keadilan. Keadilan dibangun dengan prinsip
kesetaraan sesame manusia (egaliter), dan prinsip keikhlasan dalam
muamalah melalui akad. Prinsip lain sebagai pelengkap adalah perwalian
dan persaksian atas interaksi mualmalah tersebut sehingga dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Sebuah system social yang berkeadlan
adalah system social yang menganut prinsip-prinsip tersebut diatas dan
dalam pelaksaanaanya terdapat orang yang adil.
c. Masyarakat Madani
Madani diterjemahkan secara umum menjadi
dua. Pertama madani adalah nama lain dari kota madinah. Masyrakat
madani adalah penggambaran dari masrakat kota Madinah pada jaman
kerasulan. Pandangan kedua, madani berasal dari kata dien, yang kurang
lebih masyarakat yang berdien. Medinah adalah Negara Kota (Polis) yang
multi etnis.
Untuk membangun system yang diperuntukan
untuk mengabdikan pada Allah SWT, maka membentuk tatanan social yan
Islami adalah suatu kemestian. Sementara masyrakat Medinah adalah
masyarakat yang majemuk yang tentu kepentingan berbeda-beda. Rasul
bertindak sebagai pemimpin yang adil yang mewadahi, menengahi,
memutuskan persoalan umat yang muncul.
Syarat terbentuknya masyarakat madani
adlah pemimpin yang adil, kontrak social yang melibatkan segenap lapis
masyarakat, sitem yang berkeadilan, untuk membngun kembali masyarakat
madani setidaknya kita mencoba memenuhi beberapa syarat hingga syaratnya
sempurna.
3. Penutup
- Kesimpulan
Manusi berperan ganda, satu sisi sebagai
wakil tuhan dimuka bumi untuk memakmurkan dan mensejahterakan bumi.
Disisi lain, manusia adalah hamba. Islam memandang bahwa perlu
diselaraskan antara gerak Individu dengan gerak masyarakat menuju sang
khalik, karena tiap individu diciptakan untuk beribadah.
Wallahu’alam bisshawab.
F) KEADILAN SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
1. Awal
- Definisi
Ada beberapa pendapat tentang adil
antara lain : setara, seimbang, sama rata, sesuai tempatnya,
proporsional, tidak berat sebelah dan menempatkan sesuatu pada
tempatnya. Keadilan berarti bersifat adil atau penerapan gagasan tentang
adil.
Sosial berasal daribahasa Yunani : Socius, yang
berarti masyarakat. Social berarti kumpulan Individu yang bersenyawa
dan terikat oleh geografis (ruang), waktu, norma-norma, nilai, ras,
ideology, dsb.
Ekonomi berasal dari penggabunbgan dari dua kata dalam bahasa yunani yaitu oikos dan nomos yang artinya pengaturan dan pengelolaan rumah tangga.
2. Inti
- Ideology Dunia
Ideology pertama diperkenalkan oleh
seorang dari Prancis yang bernama Dustec de Tracy pada abad 18. Ideology
berasal dari ide dan logos yang berarti ilmu, yang membahas tentang
munculnya ide. Tetapi kemudian ideology mengalami perubahan makna
ditangan Francis Bacom. Menurutnya, ideology berasal dari kata idos
(idola) yang bermakna harapan, cita-cita.
Selanjutnya ideology dapat di pahami
sebagai cita-cita ideal yang hendak diwujudkan. Ideology memiliki 3
unsur. Pertama pandangan dunia (Worrd of View). Kedua, adalaha
metodelogi dan Ketiga tujuan atau cita-cita ideal. Secara singkat
pandangan dunia dapat dimaknai dengan cara seseorang memandang tentang
hakikat dunia. Cara pandang ini sangat mempengaruhi tujuan atau
cita-cita ideal, berikut metode yang digunakan untuk mencapai cita-cita
tersebut.
- Kapitalisme
Kapitalisme secara bebas diterjemahkan
sebagai paham yang mengedepankan akumulasi modal. Karya Adam Smith “The
Wealth Of Nation” pada tahun 1776, adalah buku yang membahas tentang
pengakumulasian modal, dan karya ini di anggap sebagai tonggak dari
kapitalisme.
- Sosialisme
Menurut Whittaker sosialisme pada
mulanya dimaksudkan untuk menunjukan sitem-sistem pemilikan dan
pemanfaatan sumber-sumber produksi (selain labor) secara kolektif.
Sosialisme kemudian tidak hanya dinamakan pada system ekonomi, tapi juga
falsafah, ideology dan gerakan. Secara umum sosialisme di bagi 3.
Pertama, sosialisme sebelum Marx dan Angels. Sosialisme ini sering juga
disebut sebagai sosialisme utopis. Karena menurut Marx sosialisme ini
tidak memiliki landasan dan metode untuk mencapai tujuannya. Kedua,
sosialisme menurut Marx dan Angels sering disebut sebagai sosialisme
ilmiah, karena memiliki landasan teoritis dan filosophis. Ketiga,
sosialisme pasca Marx dan Angels banyak pemikir social yang menganggap
bahwa sosialisme warisan Marx perlu ditinjau kembali karena beberapa
argumennya tidak relevan berdasrkan perkembangan jaman.
- Teori-teori ekonomi dan social
a. Merkantilisme
Berasal dari kata Merchant yang berarti
pedagang. Sebagian Ekonom beranggapan bahwa Merkantilisme beranggapan
bahwa bukanlah sebuah aliran ekonomi, tapi sebuah kebijakan ekonomi
menyangkut system perdagangan yang dipraktekkan sekitar tahun 1500-1750.
b. Konolianisme dan Imperialisme
Perkembangan eropa sejak pernag salib
sangat pesat sangat pesaqt sehingga masuk pada jaman renaissance dan
jaman pencerahan. Kaum bangsawan dan raja menginginkan harta (gold) dan
kejayaan (glory) dilain pihak, gereja menginkan agar kristenisasi
disebarkan pada mereka yang tidak beradab (gospelt).
c. Teori Keterbelakangan
Terjadinya keterbelakangan dan
kemiskinan pada masyarakat dunia ketiga yang pernah terjajah kemudian
menggelitik para pemikir untuk menganalisa gejala tersebut.
d. Teori modernisasi vs teori structural
Beberapa teori modernisasi teori
kebutuhan Mcclelland, teori 5 tahap pembangunan Rostow, teori tabungan
dan investasi, teori manusia modern. Alex Inceles dan masih banyak lagi.
Sementara teori struktur di susun oleh kaum sosialis mengemukakan
adanya factor eksternal seperti penjajahan dan pertukaran tidak seimbang
(inequal exchange) dari Raul Fresbitch.
e. Evelopmentalisme
Premis utama yang dibangun adalah
developmentalisme adalah kebodohan dan penyebab keterbelakangan dan
kemiskinan. Olehnya untuk mengejar ketertinggalan maka pengembangan
Sumber daya manusia (SDM). Menjadi titik awalnya. Untuk itu, maka
investasi sector pendidikan menjadi persyaratan. Disebutkan bahwa ada
lingkaran setan yang terus menjebak Negara sehingga semaikn terpuruk.
Secara teoritis, memaknai developmentalisme ampuh memajukan Negara yang
keterbelakangan tapi secara praktek justru sebaliknya. Developmentalisme
sebagai anak kandung kapitalisme semakin menunjukan kelemahannya.
f. Teori Hegemoni
Adalah Antonio Gramsci yang pertama yang
mencetus teori ini. Berangkat dari perenungannya akan bahaya
reduksionisme dikalangan pemikir Marxis dan non Marxis. Gramsci
menjadikan hegemoni dan dominasi sebagai dua hal yang selaras, dimana
diantara keduanya tercipta penindasan. Sementara penindasan terjadi
adanya penindasan dan tertyindas. Dominasi adalah penindasan pada
wilayah ekonomi, dimana sistim , masyarakat dan sebagainya telah
merancang adanya penindas dan tertindas. Hegemoni adalah
penindasan pada level pemikiran, dimana struktur kesadaran masyarakat
dipoles sedemikian rupa oleh pihak penguasa, sehingga penindasan
dijadikan hal yang lumrah, atau dengan kata lain hegemoni berarti
merasuki berpikir masyarakat sehingga tidak terjadi penindasan atau
perlawanan terhadap penindasan.
- Konteks Kekinian
a. Umat Islam secara umum.
Ummat islam secara umum telah
terpisahkan oleh batas-batas Negara,sehingga tidak begitu sulit di jajah
oleh pihak luar. Keterbelakangn,kemiskinan, dan kebodohan menjadikan
umat islam mengalami kemunduran.
Di sisi lain, penguatan ekonomi umat
islam belum menemukan titik keseimbangan. Beberapa Negara isllam hidup
dengan kekayaan melimpah, tapi di Negara lain banyak umat islam
kelaparan. Upaya kongkrit dalam menyelamatkan umat islam dari jurang
kemiskinan belum ada atau mengkin belum Nampak.
Ketertinggalan pengetahuan juga melanda
umat islam. Usaha untuk membangun intelektual muslim masih terhambat
oleh sikap jumud dan picik sebagian umat, juga sokongan dana yang sangat
minim.
Dari beberapa hal di atas, umat islam
yang dalam beberapa abad lalu umumnya terjajah, sekarangpun mengalami
hal sama, namun caranya saja yang berbeda. Secara social ekonomi,
budaya, militer, dan keagamaan umat islam di jadikan objek penderita.
Saying nya islam masih tterkurung dalam perdebatan bid’ah dan
ritualitas.
b. Umat islam Indonesia
Umat islam Indonesia berda dalam empat
sisi penting. Pertama, islam yang beragan warna. Kedua, persoalan
kebangsaan yang multikompleks. Dan ketiga adalah intervensi asing.
Pada zaman kolonial, islam menjadi
spirit perlawanan. Namun setelah kemerdekaan, kekuatan umat islam
perlahan di kurangi. Akibatnya adalah adalah proses resekularisasi.
Islam semakin tersudut di tembok mesjid. Sementara sistim social yang
menindas dan tak berpihak pada rakyat kecil yang umumnya umat islam. Dan
tentunya ini adalah PR yang lain bagi umat islam.
- Gagasan Keadilan Dalam Islam
a. Prinsip-prinsip keadilan
Sesungguhnya Allah SWT menciptakan alam
semesta beserta se isinya berdasarkan keadilanya. Manusia sebagai
wakilnya atau khalifa fil ardhi bertanggung jawab memelihara
keseimbangan tersebut. Dan salah satu ukuran keberhasilanya adalah
sejauh mana menerapkan keadilan.
Dalam islam, perbedaan gender, ras,
bangsa, bukanlah sesuatu yang berarti, namun ketakwaan lah ukuranya.
Egaliter merupakan prinsip keadilan yang dalam islam jauh sebelum HAM di
cetuskan. Islam melindungi hak-hak minoritas yang non muslim, dan
pernah di contohkan oleh rasul.
3. Penutup
- Kesimpulan
Negara adalah bentuk masyarakat yang
terpenting, dan pemerintah adalah susunan masyarakat yang terkuat dan
berpengaruh. Oleh sebab itu pemerintah yang pertama berkewajiban
menegakkan kadilan. Maksud semula dan fundamental daripada didirikannya
negara dan pemerintah ialah guna melindungi manusia yang menjadi warga
negara daripada kemungkinan perusakkan terhadap kemerdekaan dan harga
diri sebagai manusia sebaliknya setiap orang mengambil bagian
pertanggungjawaban dalam masalah-masalah atas dasar persamaan yang
diperoleh melalui demokrasi.
Pada dasarnya masyarakat dengan
masing-masing pribadi yang ada didalamnya haruslah memerintah dan
memimpin diri sendiri. Oleh karena itu pemerintah haruslah merupakan
kekuatan pimpinan yang lahir dari masyarakat sendiri. Pemerintah
haruslah demokratis, berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,
menjalankan kebijaksanaan atas persetujuan rakyat berdasarkan musyawarah
dan dimana keadilan dan martabat kemanusiaan tidak terganggu. Kekuatan
yang sebenarnya didalam negara ada ditangan rakyat, dan pemerintah harus
bertanggung jawab pada rakyat.
Menegakkan keadilan mencakup penguasaan
atas keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan pribadi yang tak
mengenal batas (hawa nafsu) adalah kewajiban dari negara sendiri dan
kekuatan-kekuatan sosial untuk menjunjung tinggi prinsip
kegotongroyongan dan kecintaan sesama manusia. Menegakkan keadilan
amanat rakyat kepada pemerintah yang musti dilaksanakan. Disadari oleh
sikap hidup yang benar, ketaatan kapada pemerintah termasuk dalam
lingkungan ketaatan kepada Tuhan (kebenaran mutlak). Pemerintah yang
benar dan harus ditaati ialah mengabdi kepada kemanusiaan, kebenaran dan
akhirnya kepada Tuhan YME.
Perwujudan menegakkan keadilan yang
terpenting dan berpengaruh ialah menegakkan keadilan di bidang ekonomi
atau pembagian kekeyaan diantara anggota masyarakat. Keadilan menuntut
agar setiap orang dapat bagian yang wajar dari kekayaan atau rejeki.
Dalam masyarakat yang tidak mengenal batas-batas individual, sejarah
merupakan perjuangan dialektis yang berjalan tanpa kendali dari
pertentangan-pertentangan golongan yang didorong oleh ketidakserasian
antara pertumbuhan kekuatan produksi disatu pihak dan pengumpulan
kekayaan oleh golongan-golongan kecil dengan hak-hak istimewa dilain
pihak. Karena kemerdekaan tak terbatas mendorong timbulnya jurang-jurang
pemisah antara kekayaan dan kemiskinan yang semakin dalam. Proses
selanjutnya yaitu bila sudah mencapai batas maksimal pertentangan
golongan itu akan menghancurkan sendi-sendi tatanan sosial dan
membinasakan kemanusiaan dan peradabannya.
Dalam masyarakat yang tidak adil,
kekeyaan dan kemiskinan akan terjadi dalam kualitas dan proporsi yang
tidak wajar sekalipun realitas selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan
antara manusia dalam kemampuan fisik maupun mental namun dalam
kemiskinan dalam masyarakat dengan pemerintah yang tidak menegakkan
keadilan adalah keadilan yang merupakan perwujudan dari kezaliman.
Orang-orang kaya menjadi pelaku daripada kezaliman sedangkan orang-orang
miskin dijadikan sasaran atau korbannya. Oleh karena itu sebagai yang
menjadi sasaran kezaliman, orang-orang miskin berada dipihak yang benar.
Pertentangan antara kaum miskin menjadi pertentangan antara kaum yang
menjalankan kezaliman dan yang dizalimi. Dikarenakan kebenaran pasti
menag terhadap kebhatilan, maka pertentangan itu disudahi dengan
kemenangan tak terhindar bagi kaum miskin, kemudian mereka memegang
tampuk pimpinan dalam masyarakat.
Kejahatan di bidang ekonomi yang
menyeluruh adalah penindasan oleh kapitalisme. Dengan kapitalisme dengan
mudah seseorang dapat memeras orang-orang yang berjuang mempertahankan
hidupnya karena kemiskinan, kemudian merampas hak-haknya secara tidak
sah, berkat kemampuannya untuk memaksakan persyaratan kerjanya dan hidup
kepada mereka. Oleh karena itu menegakkan keadilan mencakup
pemberantasan kapitalisme dan segenap usaha akumulasi kekayaan pada
sekelompok kecil masyarakat. Sesudah syirik kejahatan terbesar kepada
kemanusiaan adalah penumpukan harta kekayaan beserta penggunaanya yang
tidak benar, menyimpang dari kepentingan umum, tidak mengikuti jalan
Tuhan. Maka menegakkan keadilan inilah membimbing manusia ke arah
pelaksanaan tata masyarakat yang akan memberikan kepada setiap orang
kesempatan yang sama untuk mengatur hidupnya secara bebas dan terhormat
(amar ma’ruf) dan pertentangan terus menerus terhadap segala bentuk
penindasan kepada manusia kepada kebenaran asasinya dan rasa kemanusiaan
(nahi munkar). Dengan perkataan lain harus diadakan restriksi-restriksi
atau cara-cara memperoleh, mengumpulkan dan menggunakan kekayaan itu.
Cara yang tidak bertentangan dengan kamanusiaan diperbolehkan (yang
ma’ruf dihalalkan) sedangkan cara yang bertentangan dengan kemanusiaan
dilarang (yang munkar diharamkan).
Pembagian ekonomi secara tidak benar itu
hanya ada dalam suatu masyarakat yang tidak menjalankan prisip
Ketuhanan YME, dalam hal ini pengakuan berketuhanan YME tetapi tidak
melaksanakannya sama nilainya dengan tidak berketuhanan sama sekali.
Sebab nilai-nilai yang tidak dapat dikatakan hidup sebelum menyatakan
diri dalam amal perbuatan yang nyata.
Dalam suatu masyarakat yang tidak
menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tempat tunduk dan menyerahkan
diri, manusia dapat diperbudaknya antara lain oleh harta benda. Tidak
lagi seorang pekerja menguasai hasil pekerjaanya, tetapi justru dikuasai
oleh hasil pekerjaan itu. Produksi seorang buruh memperbesar kapital
majikan dan kapital itu selanjutnya lebih memperbudak buruh. Demikian
pula terjadi pada majikan bukan ia menguasai kapital tetapi kapital
itulah yang menguasainya. Kapital atau kekayaan telah menggenggam dan
memberikan sifat-sifat tertentu seperti keserakahan, ketamakan dan
kebengisan.
Oleh karena itu menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana diterapkan dimuka, tetapi juga melalui pendidikan yang intensif terhadap pribadi-pribadi agar tetap mencintai kebenaran dan menyadari secara mendalam akan andanya tuhan. Sembahyang merupakan pendidikan yang kontinue, sebagai bentuk formil peringatan kepada tuhan. Sembahyang yang benar akan lebih efektif dalam meluruskan dan membetulkan garis hidup manusia. Sebagaimana ia mencegah kekejian dan kemungkaran. Jadi sembahyang merupakan penopang hidup yang benar. Sembahyang menyelesaikan masalah – masalah kehidupan, termasuk pemenuhan kebutuhan yang ada secara instrinsik pada rohani manusia yang mendalam, yaitu kebutuhan sepiritual berupa pengabdian yang bersifat mutlak.
Oleh karena itu menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana diterapkan dimuka, tetapi juga melalui pendidikan yang intensif terhadap pribadi-pribadi agar tetap mencintai kebenaran dan menyadari secara mendalam akan andanya tuhan. Sembahyang merupakan pendidikan yang kontinue, sebagai bentuk formil peringatan kepada tuhan. Sembahyang yang benar akan lebih efektif dalam meluruskan dan membetulkan garis hidup manusia. Sebagaimana ia mencegah kekejian dan kemungkaran. Jadi sembahyang merupakan penopang hidup yang benar. Sembahyang menyelesaikan masalah – masalah kehidupan, termasuk pemenuhan kebutuhan yang ada secara instrinsik pada rohani manusia yang mendalam, yaitu kebutuhan sepiritual berupa pengabdian yang bersifat mutlak.
Pengabdian yang tidak tersalurkan secara
benar kepada tuhan YME tentu tersalurkan kearah sesuatu yang lain. Dan
membahayakan kemanusiaan.
Dalam hubungan itu telah terdahulu keterangan tentang syirik yang merupakan kejahatan fundamental terhadap kemanusiaan. Dalam masyarakat, yang adil mungkin masih terdapat pembagian manusia menjadi golongan kaya dan miskin. Tetapi hal itu terjadi dalam batas – batas kewajaran dan kemanusian dengan pertautan kekayaan dan kemiskinan yang mendekat. Hal itu sejalan dengan dibenarkannya pemilikan pribadi (Private ownership) atas harga kekayaan dan adanya perbedaan – perbedaan tak terhindar dari pada kemampuan – kemampuan pribadi, fisik maupun mental. Walaupun demikian usaha – usaha kearah perbaikan dalam pembagian rejeki ke arah yang merata tetap harus dijalankan oleh masyarakat. Dalam hal ini zakat adalah penyelesaian terakhir masalah perbedaan kaya dan miskin itu. Zakat dipungut dari orang – orang kaya dalam jumlah presentase tertentu untuk dibagikan kepada orang miskin.
Dalam hubungan itu telah terdahulu keterangan tentang syirik yang merupakan kejahatan fundamental terhadap kemanusiaan. Dalam masyarakat, yang adil mungkin masih terdapat pembagian manusia menjadi golongan kaya dan miskin. Tetapi hal itu terjadi dalam batas – batas kewajaran dan kemanusian dengan pertautan kekayaan dan kemiskinan yang mendekat. Hal itu sejalan dengan dibenarkannya pemilikan pribadi (Private ownership) atas harga kekayaan dan adanya perbedaan – perbedaan tak terhindar dari pada kemampuan – kemampuan pribadi, fisik maupun mental. Walaupun demikian usaha – usaha kearah perbaikan dalam pembagian rejeki ke arah yang merata tetap harus dijalankan oleh masyarakat. Dalam hal ini zakat adalah penyelesaian terakhir masalah perbedaan kaya dan miskin itu. Zakat dipungut dari orang – orang kaya dalam jumlah presentase tertentu untuk dibagikan kepada orang miskin.
Zakat dikenakan hanya atas harta yang
diperoleh secara benar, sah, dan halal saja. Sedang harta kekayaan yang
haram tidak dikenakan zakat tetapi harus dijadikan milik umum guna
manfaat bagi rakyat dengan jalan penyitaan oleh pemerintah. Oleh karena
itu, sebelum penarikan zakat dilakukan terlebih dahulu harus dibentuk
suatu masyarakat yang adil berdasarkan ketuhanan Tuhan Yang Maha Esa,
dimana tidak lagi didapati cara memperoleh kekayaan secara haram, diman
penindasan atas manusia oleh manusia dihapus.
Sebagaimana ada ketetapan tentang
bagaimana harta kekayaan itu diperoleh, juga ditetapkan bagaimana
mempergunakan harta kekayaan itu. Pemilikan pribadi dibenarkan hanya
jika hanya digunakan hak itu tidak bertentangan, pemilikan pribadi
menjadi batal dan pemerintah berhak mengajukan konfikasi.
Seorang dibenarkan mempergunakan harta
kekayaan dalam batas – batas tertentu, yaitu dalam batas tidak kurang
tetapi juga tidak melebihi rata – rata atau israf pertentangan dengan
perikemanusiaan. Kemewahan selalu menjadi provokasi terhadap
pertentangan golongan dalam masyarakat membuat akibat destruktif.
Sebaliknya penggunaan kurang dari rata-rata masyarakat ( taqti)
merusakkan diri sendiri dalam masyarakat disebabkan membekunya sebagian
dari kekayaan umum yang dapat digunakan untuk manfaat bersama.
Hal itu semuanya merupakan kebenaran
karena pada hakekatnya seluruh harta kekayaan ini adalah milik Tuhan.
Manusia seluruhnya diberi hak yang sama atas kekayaan itu dan harus
diberikan bagian yang wajar dari padanya.
Pemilikan oleh seseorang (secara benar)
hanya bersifat relatif sebagai mana amanat dari Tuhan. Penggunaan harta
itu sendiri harus sejalan dengan yang dikehendaki tuhan, untuk
kepentingan umum. Maka kalau terjadi kemiskinan, orang – orang miskin
diberi hak atas sebagian harta orang – orang kaya, terutama yang masih
dekat dalam hubungan keluarga. Adalah kewajiban negara dan masyarakat
untuk melindungi kehidupan keluarga dan memberinya bantuan dan dorongan.
Negara yang adil menciptakan persyaratan hidup yang wajar sebagaimana
yang diperlukan oleh pribadi-pribadi agar diandan keluarganya dapat
mengatur hidupnya secara terhormat sesuai dengan kainginan-keinginannya
untuk dapat menerima tanggungjawab atas kegiatan-kegiatnnya. Dalam
prakteknya, hal itu berarti bahwa pemerintah harus membuka jalan yang
mudah dan kesempatan yang sama kearah pendidikan, kecakapan yang wajar
kemerdekaan beribadah sepenuhnya dan pembagian kekayaan bangsa yang
pantas.
G) ISLAM IPTEK
1. Awal
- Definisi
Iptek sebagai singkatan dari Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi memiliki beberapa penafsiran. Ilmu bagi
pemikiran barat adalah kumpulan pengetahuan yang sejenis yang
tersistematis. Ilmu dikenal dengan science (sains). Pengetahuan adalah
hasil abstraksi pemikiran manusia terhadap salah satu objek. Pengetahuan
dikenal dengan istilah knowledge. Sedang Tekhnogi adalah hasil kreasi
sains dan pengetahuan manusia dalam menciptakan alat untuk memudahkan
kebutuhan manusia.
Dalam Islam, ilmu berasal dari akar kata
‘ilm yang derivasinya antara lain ulama, alim, mualim, yuallimu dsb.
Ilmu sendiri berarti tahu. Artinya dalam khazanah pemikiran Islam tidak
ada pendikotomian antara sains dan pengetahuan. Ilmu itu satu, tapi
sudut pandang manusia menjadikan ada perbedaan antara cabang yang satu
dengan yang lain.
2. Inti
- Perkembanngan IPTEK
Perkembangan IPTEK dimulai sejak awal
sejarah kehidupan manusia tercatat dalam teks kesejarahan peradaban
China, Mesir, Babylon, Assyiria, Tunisia, dsb. Terdapat jejak-jejak
perkembangan tknologi dan pemikiran manusia.
Pada mulanya, Yunani muncul pemikir lam
yang mengkaji tentang asla muasal kehidupan. Tokoh-tokohnya antara lain
Thales, Anaximendes, dll.
Setelah itu muncul kaum sophis. Dalam bahasa Yunani yang berarti bijak, arif, bijaksana. Tokohnya antara lain adalah Pyrrho.
Efeknya dari kaum sopjis adalah muncul
keresahan masyarakat pada saat itu. Muncul kemudian Socrates yang dengan
kerendahan hatinya mengaku cerdas, pandai, arif sebagai mana kaum
sophis.
Islam memandang bahwa ilmu itu satu adanya, namun pembiasaan dialam material sehingga kelihatan berbeda.
Dilandasi dengan konsepsi seperti ini,
maka umat Islam mempelajari semua bidang Ilmu. Tidak ada pemb\atasan
ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi. Kegiatan mempelajari semua cabang Ilmu
disebut “kulliyat”
Selanjutnya, pada kisaran abad 16-17,
muncul pemikir-pemikir baru yng melahirkan tonggak kemajuan peradaban.
Newton dengan hokum newtonnya telah meletakkan fondasi kearah` kemajuan
teknologi. Muncul pula Rene Descartes dengan “Cogito
Eregusum”nya yang membawa filsafat maju beberapa langkah. Pada fase ini
di sebut masa pencerahan atau aufklarug.
- Peran IPTEK terhadap peradaban
Perkembangan IPTEK seperti pisau bersisi
dua, satu sisi dia mempermudah manusia, sedangkan sisi lain justru
menghancurkan manusia. Sebaliknya, perkembangan IPTEK juga turut
mempengaruhi peradaban manusia. Ditemukannnya pesawat telepon, internet,
dan lain-lain yang menjadikan batas-batas antara negrapun tanpa sekat
lagi. Pola interaksi manusia mengalami perubahan, sebagai contoh muncul
elektronik government dan elektronik commerce pada wilayah ekonomi dan
politik.
3. Penutup
Kesimpulan :
- Pandangan Islam terhadap IPTEK
Islam sebagai tuntutan bagi manusia
untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat memandang bahwa manusia
adalah khalifah fil arghi berdasarkan tujuan penciptaan manusia.
Untuk itu, manusia dibekali dengan akal
sebagai sumber IPTEK. Olehnya, IPTEK sesungguhnya harus menjadi alat
untuk mendekatkan diri pada sang khalik.
Islam tidk mengajarkan manusia untuk
kembali pada masa unta dan kuda untuk alat transportasi. Islam tidak
mengajarkan manusia untuk bersikap Jumud, masa bodoh dengan perkembangan
IPTEK islam tidak mengajarkan untuk menguasai IPTEK tanpa spirit
Ilahiyah. Islam tidak mengajarkan sekularisasi seperti di barat. Islam
tidak mengajarkan untuk memenuhi kebutuhan material belaka.
Islam dari munculnya menyindir manusia
untuk bertafakur dan berpikir. Islam selalu mendorong akan perkembangan
pemikiran dan penguasaan IPTEK sebagai saran untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Kecuali bebarapa agamawan yang mengaku memiliki
otoritas ilahi yang menyebabkan stagnasi intelektual.
G) REFERENSI
1. Al-Qura’anterjemahannya, Deparetmenen Negara Republik Indonesia.
2. Hasil-Hasil Kongres
3. Mulyadi Kartanegara, Gerabang Kearifan. Sebuah Pengantar Filsafat Islam, Jakarta : Lentera Hati 2006.
4. KH. Husein Muhammad, Spiritualitas Kemanusiaan, Yogyakrata :Pustaka Rihlah 2006.
5. Jamal Badidan Mustapha Tajdin, Islamic Creative Thingking, Bandung : PT MizanPustaka 2007.
6. Saifullah dan Achmad, Sisi Gaib Perjalanan Manusia, Surabaya :Karya Agung 2003.
7. Internet :Akhmad Sudrajat, All About Education, Di donwload pada tanggal 16 Januari 2012.
8. T. Syawal, Sindicat Nilai Dasar Perjuangan (NDP), Senior Scoure di HMI Cabang Banda Aceh.
9. Asian Brain.Com. Content Team. Di download pada tanggal 19 Januari 2012.
10. Blog at WordPress.com. Di download pada tanggal 20 Januari 2012.
11. Perpustakaan – Islam. Com Di download pada tanggal 17 Januari 2012.
12. Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari (Bandung: Mizan)
13. Tauhid, Imaduddin Abdurrahim, (Bandung: Pustaka)
14. Falsafatuna, Muhammad Baqir ash-Shadr (Bandung: Mizan)
15. Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Syariati (Jakarta: Rajawali)
16. Islam dan Teologi Pembebasan, Asghar Ali Engineer (Yogyakarta: LkiS)
17. Islam, Doktrin, dan Peradaban, Nurcholish Madjid (Jakarta: Paramadina)
18. Argumentasi dan Narasi, Gorys Keraf (Jakarta: Gramedia)
19. Logika, Mundiri (Jakarta: Rajawali)
20. Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar (Jakarta: Al-Muntazhar)
21. Ilmu dalam Perspektif, Jujus S Suriasumantri,ed. (Jakarta: YOI)
22. Madilog, Tan Malaka (…)
23. Pengantar Filsafat Islam, Oliver Leaman (Bandung: Mizan)
24. Buku Daras Filsafat Islam, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi (Bandung: Mizan)
25. Fitrah, Murtadha Mutahhari (Jakarta: Lentera)
26. Konsep Kepercayaan dalam Teologi Islam, Toshihiko Izutsu, (Jakarta: Tiara Wacana)
27. Dan Muhammad Utusan Allah, Anne-marie Schimmel (Bandung: Mizan)
28. Islam Agama Peradaban, Nurcholish Madjid (Jakarta: Paramadina)
29. Umat dan Imamah, Ali Syariati (Bandung: Pustaka Hidayah)
30. Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem (Lampung: YAPI)
31. Sejarah Tuhan, Karen Amrstrong, (Bandung: Mizan)
32. Tafsir Sufi, Musa Kazhim, (Jakarta: Lentera)
33. Paradigma Islam, Kuntowijoyo (Bandung: Mizan)
34. Masyarakat dan Sejarah, Murtadha Muthahhari (Bandung: Mizan)
35. Hiper-Realitas Kebudayaan, Yasraf Amir Piliang (Jakarta: LkiS)
36. Karl Marx, Franz Magnis-Suseno (Jakarta: Gramedia)
37. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, Anthony Giddens (Jakarta: UI-Press)
38. Orientalisme, Edward W Said (Bandung: Pustaka)
39. Di Bawah Bendera Revolusi [2 jilid], Soekarno (Jakarta)
40. Kumpulan Karangan, Mohamad Hatta (Jakarta: Gunung Agung)
41. Rekayasa Sosial, Jalaluddin Rakhmat (Bandung: Rosda)
42. Ibunda, Maxim Gorki (Jakarta: Kalyanamitra)
43. Perempuan di Titik Nol, Nawal el-Saadawi (Jakarta: YOI)
44. .
Tetralogi Pulau Buru: a] Bumi Manusia, b] Anak Semua Bangsa, c] Jejak
Langkah, d] Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer (Jakarta: Hasta Mitra)
45. Filsafat Hikmah, Murtadha Mutahhari (Bandung: Mizan)
46. Filsafat Shadra, Fazlur Rahman (Bandung: Pustaka)
47. Integralisme, Armahedi Mahzar (Bandung: Pustaka)
48. The Tao of Islam, Sachiko Murata (Bandung: Mizan)
49. Menuju Kesempurnaan, Mustamin al-Mandary (Makassar: Safinah)
50. Kearifan Puncak, Mulla Shadra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar